Rational Emotive Therapy (RET)

Salah satu teori yang ada dalam kegiatan konseling adalah Rational Emotive Therapy (RET) yang berasumsi bahwa berpikir dan emosi itu bukan merupakan dua proses yang terpisah, tetapi justru saling bertumpangtindih dan dalam prakteknya kedua hal tersebut saling berkaitan.

Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua

proses yang terpisah: pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih dalam prakteknya kedua hal itu saling berkaitan. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh  pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap  dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi orang tersebut, dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran.

Tujuan utama terapi rasional-emotif adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi  diri mereka merupakan sumber gangguan emosionalnya. Kemudian membantu klien agar memperbaiki cara berpikir, merasa, dan berperilaku, sehingga ia tidak lagi mengalami gangguan emosional di masa yang akan datang.

Tujuan Konseling Rasional-Emotif

Berdasarkan pandangan dan asumsi tentang hakekat manusia dan kepribadiannya serta  konsep-konsep teoritik dari RET, tujuan utama konseling rasional-emotif adalah sebagai  berikut:

  1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self-actualization-nya seoptimal mungkin  melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
  2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti: rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, dan rasa marah. Sebagai konseling dari cara berfikir keyakinan yang keliru berusaha menghilangkan dengan jalan melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri

Secara lebih khusus Ellis menyebutkan bahwa dengan terapi rasional-emotif akan

tercapai pribadi yang ditandai dengan:

 Minat kepada diri sendiri

 Minat sosial

 Pengarahan diri

 Toleransi terhadap pihak lain

 Fleksibelitas

 Menerima ketidakpastian

 Komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya

 Berpikir ilmiah

 Penerimaan diri

 Berani mengambil resiko

 Menerima kenyataan

Sebagai suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu (helping relationship), terapi rasional-emotif mempunyai karakteristik sebagai berikut:

a. Aktif-direktif: bahwa dalam hubungan konseling, terapis/ konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.

b. Kognitif-eksperiensial: bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek  kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.

c. Emotif-eksperiensial: bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek emotif klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.

d. Behavioristik: bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong  terjadinya perubahan perilaku dalam diri klien.

e. Kondisional: bahwa hubungan dalam RET dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning untuk mencapai tujuan  terapi konseling.

Berikut merupakan gambaran yang harus dilakukan oleh seorang praktisi rasional-emotif  yaitu:

a. Mengajak, mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari gangguan emosional dan prilaku.

b. Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional.7

c. Menunjukan kepada klien azas ilogis dalam berpikirnya.

d. Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional klien.

e. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini adalah “in-operative” dan bahwa hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan emosional.

f. Menggunakan absurdity dan humor untuk menantang irasional pemikiran klien.

g. Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide yang irasional ini dapat ditempatkan  kembali atau disubstitusikan kepada ide-ide rasional yang harus secara empiric melatarbelakangi kehidupannya.

h. Mengajar klien bagaimana mengaplikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah, objektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk mengobservasi dan  menghayati sendiri bahwa ide-ide irasional dan deduksi-deduksi hanya akan membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.

Teknik-Teknik Terapi

Terapi rasional-emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan  behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut ini akan dikemukakan beberapa  macam teknik yang dipakai dalam rasional-emotif:

Teknik-teknik Emotif (afektif):

1) Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan  membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku  tertentu yang diinginkan.

2) Sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang  menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang didramatisasikan  sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara  lisan, tulisan, ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.

3) Self Modeling, yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjanji” atau  mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku  tertentu.

4) Imitasi, yakni teknik yang digunakan di mana klien diminta untuk menirukan secara  terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan  menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.

 

Teknik-teknik Behavioristik

1) Reinforcement (penguatan), yakni teknik yang digunakan untuk mendorong klien ke arah  perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward)  ataupun punishment (hukuman).

2) Social Modeling (pemodelan sosial), yakni teknik yang digunakan untuk memberikan  perilaku-perilaku baru pada klien.

3) Live Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk menggambarkan  perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam  bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.9

 

Teknik-teknik Kognitif

Teknik-teknik konseling atau terapi berdasarkan pendekatan kognitif memegang peranan  utama dalam konseling rasional-emotif. Dengan teknik ini klien didorong dan dimodifikasi  aspek kognitifnya agar dapat berpikir dengan cara yang rasional dan logis sehingga klien  dapat bertindak atau berperilaku sesuai sistem nilai yg diharapkan baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.

Beberapa teknik kognitif yang cukup dikenal adalah:

1) Home Work Assigments (pemberian tugas rumah). Dalam teknik ini, klien diberikan  tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Teknik ini sebenarnya dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap bertanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien, serta mengurangi ketergantungan kepada konselor atau terapis.

2) Assertive. Teknik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui; role playing (bermain peran), rehearsal (latihan), dan social modeling (meniru model-model  sosial). Maksud utama teknik Assertive Training adalah untuk:

a) Mendorong kemampuan klien mengekspresikan seluruh hal yang berhubungan dengan emosinya;

b) Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain;

c) Mendorong kepercayaan pada kemampuan diri sendiri; dan10d) Meningkatkan kemampuan untuk memilih perilaku-perilaku assertive yang cocok untuk dirinya sendiri.

Pendekatan rasional emotif yang dikembangkan oleh Albert Ellismempunyai kelebihan sebagai berikut:

1. Rasional Emotif menawarkan dimensi kognitif dan menantang klienuntuk meneliti rasionalitas dari keputusan yang telah diambil sertanilai yang klien anut.

2. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk mengaktifkanpemahaman yang di dapat oleh klien sehingga klien akan langsungmampu mempraktekkan perilaku baru mereka.

3. Rasional emotif menekankan pada praktek terapeutik yangkomprehensif dan eklektik.

4. Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara mereka bisa melakukanterapi sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis.

Kekurangan dari pendekatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Rasional emotif tidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalamproses terapeutik ada hal-hal yang tidak diperhatikan.
  2. Rasional emotif kurang melakukan pembangunan hubungan antaraklien dan terapis sehingga klien mudah diintimidasi oleh konfrontasicepat terapis.
  3. Klien dengan mudahnya terbius dengan oleh kekuatan dan wewenangterapis dengan menerima pandangan terapis tanpa benar-benarmenantangnya atau menginternalisasi ide-ide baru.
  4. Kurang memperhatikan faktor ketidaksadaran dan pertahanan ego.

 

Sumber:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s