Skripsi Sitem Informasi – Psikologi

Judul Skripsi :

PEMBUATAN ANIMASI PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA MATA KULIAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MENGGUNAKAN ADOBE FLASH CS3

link :
http://www.library.gunadarma.ac.id/epaper/detail/3745611

Penyusun Skripsi : Lisda
Mahasiswa Universitas Gunadarma jurusan Sistem Informasi

ABSTRAK

Pembelajaran berbasis multimedia adalah salah atu bentuk pemanfaatan TIK yang perlu dilaksanakan dalam dunia pendidikan dewasa ini. Pembelajran berbasis multimedia merupakan suatu pendekatan mengajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenagkan.

Aplikasi pembelajaran yang dibuat ini menyajikan materi secara interaktif disertai animasi, video, teks, dan suara. Proses pembuatan aplikasi yang dilakukan dimulai dari tahap penentuan sasaran, pemilihan topik dan materi, pengumpulan data, perancangan, pembuatan dan uji coba. Pembuatan aplikasi ini bertujuan untuk mengaplikasikan suatu media pembelajaran berbasis multimedia berupa animasi pada mata kuliah Psikologi Perkembangan dengan menggunakan software Adobe Flash CS3. Aplikasi ini ditujukan bagi mahasiswa jurusan Psikologi di Universitas Gunadarma.

Aplikasi yang telah dibuat sudah berjalan dengan baik sesuai dengan rancangan yang telah dibuat. Pembuatan aplikasi pembelajaran ini dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran mata kuliah Psikologi Perkembangan khususnya mengenai materi Perkembangan Janin, Perkembangan Fisik Anak (3 tahun pertama) dan Perkembangan Kognitif Anak (3 tahun pertama).

METODE PENELITIAN 

Dalam penulisan Tugas Akhir ini dilakukan beberapa tahap dalam melakukan penelitian, yaitu :

1). Perencanaan

      Yang dilakukan dalam perencanaan adalah penentuan sasaran dimana yang menjadi sasarna adalah mahasiswa Universitas Gunadarma Fakultas Psikologi, Jurusan Psikologi. Topik yang dipilih untuk pembuatan pembelajran berbasis multimedia ini adalah Perkembangan Psikologi dengan pertimbangan, antara lain materi penting diketahui, bermanfaat, dan mudah untuk divisualisasikan. Materi yang akan dibahas dalam media pembelajran ini adalah Psikologi Perkembangan untuk subtopik mengenai Perkembangan Janin, Perkembangan Fisik (3 tahun pertama), Perkembangan Kognitif (3 tahun pertama). Kemudian melakukan pengumpulan data, dimana sumber referensi materi Perkembangan Psikologi berasal dari buku pengantar diantaranya Perkembangan Manusia dan modul materi yang diberikan oleh seorang dosen. Selain itu penulis juga mencari dan mengumpulkan data seperti gambar, suara, teks, video dan software Adobe flash CS3 yang dibutuhkan dalam pembuatan animasi melalui penelusuran internet dan media pendukung lainnya.

2). Perancangan Aplikasi

      Merancang aplikasi dengan membuat struktur navigasi dan merancang halaman yang akan ditampilkan serta animasi yang akan  dibuat.

3). Pembuatan Aplikasi

      Mengimplementasikan hasil rancangan serta membuat animasi dengan menggunakan software Adobe Flash CS3.

4). Uji coba Aplikasi

    Sebelum aplikasi diimplementasikan, penulis melakukan pengujian terlebih dahulu. Pengujian aplikasi ini dimulai, setelah seluruh tampilan sudah jadi lalu melewati proses running. Ketika proses running masih terdapat kesalahan maka penulis segera memperbaikinya. Jika tidak terdapat kesalahan pada aplikasi setelah di running, maka aplikasi tersebut diubah ke dalam bentuk .exe. Hal ini dilakukan agar aplikasi ini dapat dijalankan di berbagai komputer dengan spesifikasi tertentu.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan bahwa aplikasi pembelajran Psikologi Perkembangan dari segi desain tampilan, animasi, serta materi yang dibuat sudah berjalan dengan baik serta sesuai dengan rancangan yang telah dibuat dan layak untuk dijadikan sebagai sarana bahan pembelajaran yang berbasis multimedia bagi dosen maupun mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Aplikasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan, wawasan tentang mata kuliah khususnya mengenai materi Perkembangan Janin, Perkembangan Fisik (3 tahun pertama) dan Perkembangan Kognitif Anak (3 tahun pertama).

Dengan adanya software komputer Adobe Flash CS 3, pembelajaran berbasis multimedia dapat dibuat , karena Adobe Flash CS 3 merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menghasilkan program animasi yang menarik yang dapat membuat file-file multimedia serta mudah menampilakn efek-efek animasi dengan cepat. Selain itu Adobe Flash CS 3 dapat diintegrasikan dengan media audio dan visual lainnya seperti visualisasi gambaar dan suara.

Sistem Informasi Berbasis Komputer

 

Sistem Informasi Berbasis Komputer

Dewasa ini sistem informasi berbasis komputer sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Dalam keseharian manusia dapat dikatan menggunakan peralatan berbasis teknologi komputer. Manusia sangat memerlukan informasi-informasi untuk menambah wawasan, membantu pekerjaan sehari-hari dan kualitas hidupnya. Oleh karena itulah banyak peneliti yang menciptakan berbagai perangkat berbasis komputer yang ditujukan untuk memudahkan manusia dalam pengaplikasiaannya.

Definisi Sistem  adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan yang kompleks atau merupakankumpulan dari beberapa elemen yang saling berintegrasi untuk mencapai tujuan tertentu. Elemen-elemen yang mewakili suatu sistem secara umum adalah masukan (input), pengolahan (processing) dan keluaran (output). Elemen-elemen sistem secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut :

OUTPUT     —–>    PROCESSING —–>  INPUT

Sistem mempunyai karakteristik atau sifat – sifat tertentu, yaitu :

                        1. Komponen Sistem

                        2. Batasan Sistem

                        3. Lingkungan Luar Sistem

                        4. Penghubung Sistem

                        5. Masukan Sistem

                        6. Keluaran Sistem

                        7. Pengolahan Sistem

                        8. Sasaran Sistem

Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna dan menjadi  berarti bagi       penerimanya. Kegunaan informasi adalah untuk mengurangi ketidakpastian di dalam         proses pengambilan keputusan tentang suatu      keadaan. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif           dibandingkan dengan biaya untuk mendapatkan informasi   tersebut.

Kualitas informasi sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh beberapa hal yaitu :

a. Relevan (Relevancy)

b. Akurat (Accurancy)

c. Tepat waktu (Time liness)

d. Ekonomis (Economy)

e. Efisien (Efficiency)

f. Ketersediaan (Availability)

g. Dapat dipercaya (Reliability)

h. Konsisten

Computer Based Information System (CBIS) atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut juga Sistem Informasi Berbasis Komputer merupakan sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas, berguna bagi penerimanya, dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan. Sistem Informasi “berbasis komputer” mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem informasi.

Contoh aplikasi Sistem Informasi Berbasis Komputer :

(1). SIA /SISTEM INFORMASI AKUNTASI

Sistem informasi akuntansi melaksanakan akuntansi perusahaan, aplikasi ini ditandai dengan penngolahan data yang tinggi.

Tujuan Pengolahan Data –> mengumpulkan data yang menjelaskan kegiatan perusahaan, mengubah data tersebut menjadi informasi serta menyediakan informasi bagi pemakai didalam maupun di luar perusahaan.

SIA melaksanakan 4 tugas dasar :

  • pengumpulan data
  • manipulasi data
  • pengklasifikasian, penyortiran, perhitungan, pengikhtisaran, penyiapan dokumen.
  • penyimpanan data
  • penyiapan data

Contoh Sistem Informasi Akuntansi :
Sistem terdistribusi yang digunakan perusahaan distribusi yaitu perusahaan yang mendistribusikan produk dan jasanya ke pelanggan (mis : perusahaan yang berorientasi produk seperti : manufaktur, pedagang besar, pengecer dll).

(2). SIM /SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi pemakai dengan kebutuhan yang serupa dan integrasi manusia/mesin guna menyediakan informasi untuk mendukung fungsi operasional manajemen & pengambilan keputusan pada suatu organisasi.

Tujuan SIM —> Memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam sub unit organisasional perusahaan (subunit dapat disasarkan pada area fungsional atau tingkatan manajemen).

(3). SPK /SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

SPK –> Sistem komputer yang interaktif yang membantu pembuat keputusan dalam menggunakan & memanfaatkan data & model untuk memecahkan masalah yang tidak terstruktur.

Tujuan :

  • Memberikan dukungan untuk pembuatan keputusan pada masalah yang semi/tidak terstruktur.
  • Memberikan dukungan pembuatan keputusan kepada manajer pada semua tingkat untuk membantu integrasi antar tingkat.
  • Meningkatkan efektifitas manajer dalam pembuatan keputusan & bukan peningkatan efisiennya.

(4). OTOMATISASI KANTOR / OFFICE AUTOMATION / OA

Semua sistem elektronik formal & informal terutama yang berkaitan dengan komunikasi informasi ke dan dari orang-orang di dalam maupun di luar perusahaan.

Fungsi OA adalah —> Untuk memudahkan segala jenis komunikasi baik lisan maupun tulisan & menyediakan informasi yang lebih baik untuk pengambilan keputusan.

(5). SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR /MANUFACTURING INFORMATION SYSTEM

Merupakan subsistem SIM yang menyediakan informasi untuk digunakan dalam pemecahan masalah manufaktur.

contoh SI manufaktur

  • subsistem produk menelusuri arus suatu pekerjaan, perusahaan merakit lampu sepeda, senter ini dirakit dari beberapa bagian
  • jadual produksi, menentukan langkah-langkah proses produksi yang akan dilakukan menentukan status sehingga pekerjaannya dapat ditanyakan.

Sistem Pakar

Definisi Sistem pakar menurut para ahli :

  • Menurut Durkin Sistem pakar adalah suatu program komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan penyelesaian masalah yang dilakukan seorang pakar.
  • Menurut Ignizio Sistem pakar adalah suatu model dan prosedur yang berkaitan, dalam suatu  domain  tertentu,  yang  mana  tingkat  keahliannya  dapat dibandingkan dengan keahlian seorang pakar.
  • Menurut Giarratano dan Riley  Sistem pakar adalah suatu sistem komputer yang bisa menyamai atau meniru kemampuan seorang pakar
  • Menurut Turban (dalam Kusrini, 2006) Sistem pakar adalah program computer yang menirukan penalaran seorang pakar dengan keahlian suatu wilayah pengetahuan tertentu.
  • Menurut Martin dan Oxman (dalam Kusrini, 2006) Sistem pakar adalah sistem berbasis computer, yang menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dalam bidang tersebut.

Beberapa aktivitas pemecahan yang dimaksud dalama sistem pakar antara lain: Pembuatan keputusan (decicion making), pemaduan pengetahuan (knowledge fusing), pembuatan desain (designing), perencanaan (planning), prakiraan (forecasting), pengaturan (regulating), pengendalian (cotrolling), perumusan (prescribing), penjelasan (explaining), pemberian nasihat (advising) dan pelatihan (tutoring). Selain itu sistem pakar juga dapat berfungsi sebagai asisten yang pandai dari seorang pakar (Martin dan Oxman, dalam Kusrini 2006).

Konsep Dasar Sistem Pakar

Sistem pakar mencakup beberapa persoalan mendasar, antara lain siapa yang disebut pakar, apa yang dimaksud dengan keahlian, bagaimana keahlian dapat ditransfer, dan bagaimana sistem bekerja. Menurut Turban dan Frenzel, konsep dasar sistem pakar terdiri atas:

1)      Kepakaran (Expertise)

Kepakaran merupakan penguasaan pengetahuan di bidang tertentu yang diperoleh dari serangkaian pelatihan, membaca atau pengalaman.

2)      Pakar (Expert)

Seorang pakar adalah orang yang memiliki pengetahuan, penilaian, pengalaman, metode khusus, serta kemampuan untuk menerapkan bakat ini dalam memberi nasihat dan memecahkan masalah.

3)      Pengalihan Kepakaran

Tujuan utama sistem pakar adalah mengalihkan kepakaran seorang pakar dalam computer yang akan digunakan oleh pihak lain yang bukan pakar, untuk menemukan solusi atas permasalahan. Pengetahuan yang disimpan dalam mesin disebut dengan nama basis pengetahuan.

4)      Penalaran (Inference)

Salah satu fitur yang harus dimiliki oleh sistem pakar adalah kemampuan untuk menalar. Jika kepakaran sudah tersimpan sebagai basis pengetahuan dan tersedia program yang mampu mengakses data, maka computer harus dapat deprogram untuk membuat inferensi. Proses kesimpulan ini dikemas dalam bentuk motor inferensi.

5)      Aturan – aturan (Rules)

Sebagian besar sistem pakar adalah sistem berbasis aturan. Aturan tersebut biasanya berbentuk IF – THEN. Aturan digunakan sebagai prosedur untuk memecahkan permasalahan.

6)      Kemampuan Penjelasan (Explanation Capability)

Kemampuan menjelaskan merupakan komponen tambahan dari sistem pakar yang berfungsi untuk memberikan penjelasan kepada user mengapa suatu pertanyaan ditanyakan oleh sistem pakar, bagaimana kesimpulan dapat diperoleh, kenapa solusi tertentu ditolak, dan apa rencana untuk mencapai solusi.

Struktur Sistem Pakar

            Menurut Turban dan Frenzel sistem pakar disusun oleh dua bagian utama, yaitu lingkungan pengembangan (development environment) dan linkungan konsultasi (consultation environment). Lingkungan pengembangan digunakan sebagai pembangunan sistem pakar baik dari segi pembangunan komponen maupun basis pengetahuan. Lingkungan konsultasi digunakan oleh seseorang yang bukan pakar untuk memperoleh pengetahuan pakar.

Sistem Pengambilan Keputusan

Dalam sebuah pengambilan keputusan seseorang sering dihadapkan pada berbagai  situasi         dan kondisi yang kompleks. Kondisi yang dimaksud yaitu bingungnya  seseorang dalam pengambilan keputusan karena suatu keputusan yang hanya satu kali dan tidak dapat diulang dimasa yang akan datang. Seseorang diharuskan untuk memikirkan dampak jangka panjang dan jangka pendek dari keputusan yang dibuat.

Menurut Mangkusubroto dan Trisnadi (dalam Marimin, ) pada prinsipnya terdapat dua basis dalam pengambilan keputusan, yaitu pengambilan keputusan berdasarkan intuisi dan pengambilan keputusan rasional, berdasarkan hasil analisis keputusan.

Pengambilan keputusan dapat melalui 2 kerangka kerja meliputi (1) pengambilan keputusan tanpa percobaan, hal ini dilakukan dengan cara menyususn secara sistematis cara kerja umum sebelum mencari solusi bagi masalah yang diharapkan (2) pengambilan keputusan berdasarkan suatu pecobaan.

Mengambil atau membuat keputusan adalah suatu proses yang dilaksanakan orang berdasarkan pengetahuan dan informasi yang ada padanya pada saat tersebut dengan harapan bahwa sesuatu akan terjadi. Keputusan dapat diambil dari alternatif-alternatif keputusan yang ada, kemudian informasi tersebut diolah dan disajikan dengan sistem penunjang keputusan. Adapun informasi terbentuk dari adanya data yang terdiri dari bilangan dan terms yang disusun, diolah dan disajiakan dengan dukungan sistem informasi manajemen. Kemudian keputusan yang diambil perlu ditindak lanjuti dengan aksi yang dalam pelaksanaannya perlu mengacu pada standar prosedur operasi dan akan membentuk kembali data, begitu seterusnya yang terjadi dalam siklus data, informasi, keputusan dan aksi.

Contoh :

Ada seorang ibu rumah tangga yang ingin membeli kebutuhan rumah tangga. Untuk mengambil keputusan barang apa yang akan ia beli maka terlebih dahulu  ia akan membandingakn informasi yang ia pernah alami dengan informasi dari orang lain misalnya tentang kualitas, harga, brand dan kuantitas dari barang yang akan dikonsumsi. Setelah semuanya dipertimbangkan dan dibandingkan maka ia akan membuat keputusan tentang barang apa yang akan dibeli. Hal ini dilakukan untuk memperoleh keuntungan jangka panjang, karena sebuah keputusan tidak bisa diulang kembali.

 

Artificial Intelligence

Kecerdasan Buatan (bahasa InggrisArtificial Intelligence atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia.

Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games), logika fuzzyjaringan syaraf tiruan dan robotika.

Walaupun AI memiliki konotasi fiksi ilmiah yang kuat, AI membentuk cabang yang sangat penting pada ilmu komputer, berhubungan dengan perilaku, pembelajaran dan adaptasi yang cerdas dalam sebuah mesin. Penelitian dalam AI menyangkut pembuatan mesin untuk mengotomatisasikan tugas-tugas yang membutuhkan perilaku cerdas. Termasuk contohnya adalah pengendalian, perencanaan dan penjadwalan, kemampuan untuk menjawab diagnosa dan pertanyaan pelanggan, serta pengenalan tulisan tangan, suara dan wajah. Hal-hal seperti itu telah menjadi disiplin ilmu tersendiri, yang memusatkan perhatian pada penyediaan solusi masalah kehidupan yang nyata. Sistem AI sekarang ini sering digunakan dalam bidang ekonomi, obat-obatan, teknik dan militer, seperti yang telah dibangun dalam beberapa aplikasi perangkat lunak komputer rumah dan video game.

Contoh aplikasi AI :

1. Visualisasi komputer —> Kecerdasan buatan pada bidang visualisasi komputer ini memungkinkan sebuah sistem komputer mengenali gambar sebagai input.

Contoh: mengenali pola pada gambar.

2. Pengenalan Suara —-> Kecerdasan buatan pada pengenalan suara ini dapat mengenali suara manusia. Cara mengenali suara ini dengan mencocokannya pada acuan yang telah diprogramkan terlebih dahulu.

Contoh : perintah komputer dengan menggunakan suara user.

3. Sistem Pakar —> Kecerdasan buatan pada sistem pakar ini memungkinkan sebuah sistem komputer memiliki cara berpikir dan penalaran seorang ahli dalam mengambil keputusan, untuk memecahkan masalah yang ada pada saat itu.

Contoh : program komputer yang dapat mendiagnosa penyakit dengan memasukan gejala-gejala apa saja yang dialami pasien.

4. Permainan —> Kecerdasan buatan pada permainan ini memungkinkan sebuah sistem komputer untuk memiliki cara berpikir manusia dalam bermain.

Contoh : permainan yang memiliki fasilitas orang melawan komputer. Komputer sudah di program sedemikian rupa agar memiliki cara bermain seperti seorang manusia bahkan bisa melebihi seorang manusia.

KESIMPULAN

Computer Based Information System (CBIS) atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut juga Sistem Informasi Berbasis Komputer merupakan sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas, berguna bagi penerimanya, dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan. Sistem Informasi “berbasis komputer” mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem informasi.

sistem pakar yaitu suatu sistem berbasis computer atau suatu program computer yang dirancang yang menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran dalam memecahkan dan menyelesaikan  masalah, dimana suatu sistem tersebut bisa menyamai atau meniru penalaran dan keahlian seorang pakar. Aktivitas pemecahan masalah yang dimaksud yaitu pembuatan keputusan (decicion making), pemaduan pengetahuan (knowledge fusing), pembuatan desain (designing), perencanaan (planning), prakiraan (forecasting), pengaturan (regulating), pengendalian (cotrolling), perumusan (prescribing), penjelasan (explaining), pemberian nasihat (advising) dan pelatihan (tutoring). Selain itu sistem pakar juga dapat berfungsi sebagai asisten yang pandai dari seorang pakar.

Sistem Pengambilan Keputusan –> Mengambil atau membuat keputusan adalah suatu proses yang dilaksanakan orang berdasarkan pengetahuan dan informasi yang ada padanya pada saat tersebut dengan harapan bahwa sesuatu akan terjadi. Keputusan dapat diambil dari alternatif-alternatif keputusan yang ada, kemudian informasi tersebut diolah dan disajikan dengan sistem penunjang keputusan. Adapun informasi terbentuk dari adanya data yang terdiri dari bilangan dan terms yang disusun, diolah dan disajiakan dengan dukungan sistem informasi manajemen. Kemudian keputusan yang diambil perlu ditindak lanjuti dengan aksi yang dalam pelaksanaannya perlu mengacu pada standar prosedur operasi dan akan membentuk kembali data, begitu seterusnya yang terjadi dalam siklus data, informasi, keputusan dan aksi.

Kecerdasan Buatan (bahasa InggrisArtificial Intelligence atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.inspirasidigital.com/posting/sistem-pakar-menurut-para-ahli.html/diakses 26 Oktober 2013

Kusrini. (2006). Sistem pakar, teori dan aplikasi. Yogyakarta: Andi

Fatta, H. A. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: Andi

Marimin. (      ). Teknik dan aplikasi; pengambilan keputusan kriteria majemuk. Grasindo

http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_buatan

VICTOR FRANKL “LOGOTHERAPY”

Logotherapy dikembangkan oleh ahli saraf dan psikiater Viktor Frankl. Viktor E. Frankl dilahirkan di Wina, Austria pada tanggal 26 Maret 1905. Logoterapi dilandasi keyakinan bahwa itu adalah berjuang untuk menemukan makna dalam kehidupan seseorang yang utama, yang paling kuat memotivasi dan pendorong dalam manusia.  

Prinsip-prinsip dasar

Gagasan Logotherapy diciptakan dengan Yunani kata logos (“yang berarti”). Konsep Frankl ini didasarkan pada premis bahwa kekuatan motivasi utama dari seorang individu adalah untuk menemukan makna hidup. 

Daftar berikut merupakan prinsip prinsip dasar logoterapi:

  • Kehidupan memiliki makna dalam keadaan apapun, bahkan yang paling menyedihkan.
  • Motivasi utama kami untuk hidup adalah keinginan kita untuk menemukan makna hidup.
  • Kami memiliki kebebasan untuk menemukan makna dalam apa yang kita lakukan, dan apa yang kita alami, atau setidaknya dalam berdiri kita ambil ketika dihadapkan dengan situasi penderitaan berubah. 

 

Jiwa manusia disebut di beberapa asumsi logoterapi, tetapi penggunaan istilah roh tidak “spiritual” atau “religius”. Dalam pandangan Frankl, roh adalah kehendak manusia. Penekanannya, karena itu, adalah pada pencarian makna, yang tidak selalu mencari Tuhan atau makhluk supernatural lainnya. Frankl juga mencatat hambatan untuk pencarian manusia untuk makna dalam kehidupan. Dia memperingatkan terhadap  “kemakmuran, hedonisme , [dan] materialisme … ” dalam pencarian makna. Tujuan hidup dan makna hidup konstruksi muncul dalam tulisan-tulisan logoterapi Frankl dengan hubungan dengan vakum eksistensial dan kemauan untuk makna, serta orang lain yang telah berteori tentang dan didefinisikan psikologis yang positif berfungsi. Frankl mengamati bahwa mungkin secara psikologis merusak ketika pencarian seseorang akan makna diblokir. 

Tujuan hidup yang positif dan makna dikaitkan dengan keyakinan yang kuat agama, keanggotaan dalam kelompok, dedikasi untuk penyebab, nilai-nilai kehidupan, dan tujuan yang jelas. Perkembangan dewasa dan kematangan teori mencakup tujuan dalam konsep hidup. Kematangan menekankan pemahaman yang jelas tentang tujuan hidup, directedness, dan intensionalitas yang berkontribusi pada perasaan bahwa hidup ini bermakna. 

Ide Frankl yang dioperasionalkan oleh Crumbaugh dan Tujuan Maholick dalam hidup (PIL) tes, yang mengukur makna individu dan tujuan dalam hidup. Dengan tes, peneliti menemukan bahwa makna hidup dimediasi hubungan antara religiusitas dan kesejahteraan; stres tak terkendali dan penggunaan narkoba, depresi dan self-pengurangan. Crumbaugh menemukan bahwa Mencari dari niskala Uji Gol (LAGU) adalah ukuran komplementer dari PIL. Sementara PIL mengukur keberadaan makna, LAGU mengukur orientasi terhadap makna. Sebuah skor rendah dalam PIL namun skor tinggi dalam LAGU, akan memprediksi hasil yang lebih baik dalam penerapan Logotherapy.  

Menemukan makna

Menurut Frankl, “Kita dapat menemukan makna dalam hidup dalam tiga cara yang berbeda:

(1) dengan menciptakan pekerjaan atau melakukan perbuatan,

(2) dengan mengalami sesuatu atau menghadapi seseorang, dan

 (3) oleh sikap kita ambil menuju dihindari penderitaan “dan bahwa” segala sesuatu yang dapat diambil dari seorang pria tapi satu hal:. yang terakhir dari kebebasan manusia – untuk memilih sikap dalam setiap himpunan keadaan ” Pada makna penderitaan, Frankl memberikan contoh berikut:

“Sekali, seorang dokter umum tua berkonsultasi dengan saya karena depresi yang parah. Dia tidak bisa mengatasi kehilangan istrinya yang telah meninggal dua tahun sebelum dan yang ia cintai di atas segalanya. Sekarang bagaimana aku bisa membantunya? Apa yang harus kukatakan ? dia aku menahan diri untuk menceritakan apa-apa, tapi malah dihadapkan dia dengan pertanyaan, “Apa yang akan terjadi, Dokter, jika Anda sudah mati lebih dulu, dan istri Anda akan harus bertahan hidup Anda:?” “Oh,” katanya, “untuknya ini akan menjadi mengerikan, bagaimana dia akan menderita!” Mendengar itu saya menjawab, “Anda lihat, Dokter, penderitaan tersebut telah diselamatkan, dan itu adalah Anda yang telah terhindar nya penderitaan ini, tetapi sekarang, Anda memiliki untuk membayar untuk itu dengan selamat dan berkabung nya. “Dia mengatakan tidak ada kata tapi menjabat tangan saya dan dengan tenang meninggalkan kantor. 

Frankl menekankan bahwa mewujudkan nilai penderitaan bermakna hanya ketika dua kemungkinan kreatif tidak tersedia (misalnya, di kamp konsentrasi) dan hanya jika penderitaan tersebut tidak bisa dihindari – dia tidak mengusulkan bahwa orang menderita tidak perlu. 

 

Filosofi dasar logoterapi

Frankl menggambarkan implikasi metaclinical dari logoterapi dalam bukunya The Will Makna: Yayasan dan Aplikasi Logotherapy. Dia percaya bahwa tidak ada psikoterapi terlepas dari teori manusia. Sebagai seorang psikolog eksistensial, ia inheren tidak setuju dengan “model mesin” atau “model tikus”, karena merusak kualitas manusia manusia. Sebagai seorang ahli saraf dan psikiater, Frankl mengembangkan pandangan unik determinisme untuk hidup berdampingan dengan tiga pilar dasar logoterapi (kebebasan kehendak). Meskipun Frankl mengakui bahwa manusia tidak pernah bisa bebas dari setiap kondisi, seperti, biologis, sosiologis, psikologis atau penentu, berdasarkan pengalamannya dalam Holocaust, ia percaya bahwa manusia adalah “mampu melawan dan menantang bahkan kondisi terburuk”. Dalam melakukan seperti itu, manusia dapat melepaskan diri dari situasi, dirinya, memilih sikap tentang dirinya sendiri, menentukan determinan sendiri, sehingga membentuk karakter sendiri dan menjadi bertanggung jawab untuk dirinya sendiri.

 

Pandangan Logotherapeutic dan pengobatan

  • Mengatasi kecemasan

Dengan mengenali tujuan keadaan kita, seseorang dapat menguasai kecemasan. Anekdot tentang penggunaan ini logoterapi diberikan oleh New York Times penulis Tim Sanders, yang menjelaskan bagaimana dia menggunakan konsep untuk meringankan stres fellow travellers maskapai dengan meminta mereka tujuan perjalanan mereka. Ketika ia melakukan hal ini, tidak peduli seberapa menyedihkan mereka, perubahan sikap seluruh mereka, dan mereka tetap bahagia sepanjang penerbangan.  Secara keseluruhan, Frankl percaya bahwa individu cemas tidak mengerti bahwa kecemasan adalah hasil dari berurusan dengan rasa “tanggung jawab terpenuhi” dan akhirnya kurangnya makna.  Pengobatan neurosis

Frankl menyebutkan dua patogen neurotik: hiper-niat, niat yang dipaksa menuju suatu tujuan yang membuat akhir yang tak terjangkau, dan hiper-refleksi, perhatian berlebihan terhadap diri sendiri yang menghambat upaya untuk menghindari neurosis yang orang berpikir diri cenderung. Frankl mengidentifikasi kecemasan antisipatif , takut hasil yang diberikan yang membuat hasil yang lebih mungkin. Untuk meringankan kecemasan antisipatif dan mengobati yang dihasilkan neurosis, logoterapi menawarkan niat paradoks , dimana pasien bermaksud untuk melakukan kebalikan dari tujuan hiper-dimaksudnya.

Seseorang, kemudian, yang takut (yaitu mengalami kecemasan antisipatif atas) tidak mendapatkan tidur malam yang baik mungkin mencoba terlalu keras (yaitu, hiper-berniat) untuk tertidur, dan ini akan menghambat kemampuannya untuk melakukannya. Sebuah logotherapist akan merekomendasikan, bahwa ia pergi ke tempat tidur dan sengaja mencoba untuk tidak jatuh tertidur. Ini akan meringankan kecemasan antisipatif yang membuatnya terjaga di tempat pertama, sehingga memungkinkan dia untuk tertidur dalam jumlah yang diterima waktu. 

  • Depresi

Viktor Frankl percaya depresi terjadi pada psikologis, fisiologis, dan spiritual tingkat.  Pada tingkat psikologis, ia percaya bahwa perasaan tidak mampu melakukan tugas berasal dari luar kemampuan kita. Pada tingkat fisiologis, ia mengakui “rendah vital”, yang didefinisikan sebagai “berkurangnya energi fisik”. Akhirnya, Frankl percaya bahwa pada tingkat spiritual, orang depresi menghadapi ketegangan antara yang benar-benar dia dalam kaitannya apa yang seharusnya dia. Frankl menyebut hal ini sebagai menganga jurang.  Akhirnya Frankl menunjukkan bahwa jika tujuan tampaknya tidak terjangkau, seseorang kehilangan rasa masa depan dan dengan demikian berarti mengakibatkan depresi.  Dengan demikian logoterapi bertujuan “untuk mengubah Sikap pasien terhadap penyakitnya serta arah hidupnya sebagai tugas “.

  • Obsesif-kompulsif

Frankl percaya bahwa mereka yang menderita gangguan obsesif-kompulsif tidak memiliki rasa penyelesaian bahwa kebanyakan orang lain miliki.  Alih-alih memerangi kecenderungan untuk mengulangi pikiran atau tindakan, atau berfokus pada perubahan gejala individu dari penyakit, terapis harus fokus pada “transform [ing] neurotik sikap terhadap neurosis nya”. Oleh karena itu, penting untuk mengenali bahwa pasien “tidak bertanggung jawab atas ide obsesif nya”, tapi “dia pasti bertanggung jawab atas sikapnya terhadap ide-ide “. Frankl menyarankan bahwa penting bagi pasien untuk mengenali kecenderungan ke arah kesempurnaan sebagai takdir, dan karena itu, harus belajar untuk menerima beberapa derajat ketidakpastian. Pada akhirnya, setelah premis logoterapi, pasien akhirnya harus mengabaikan pikiran obsesif dan menemukan makna dalam hidupnya meskipun pikiran seperti itu.

  • Skizofrenia

Meskipun logoterapi tidak dimaksudkan untuk menangani gangguan yang parah, Frankl percaya logoterapi yang bisa menguntungkan bahkan mereka yang menderita skizofrenia.  Dia mengakui akar skizofrenia pada disfungsi fisiologis.  Pada disfungsi ini, skizofrenia yang “mengalami dirinya sebagai obyek “bukan sebagai subjek.  208 Frankl menyarankan bahwa skizofrenia bisa dibantu dengan logoterapi dengan terlebih dahulu diajarkan untuk mengabaikan suara dan untuk mengakhiri persisten pengamatan-diri.  Kemudian, selama periode yang sama ini, skizofrenia harus dipimpin ke arah kegiatan yang berarti, sebagai “bahkan untuk skizofrenia tetap ada bahwa residu kebebasan terhadap nasib dan arah penyakit dimana manusia selalu memiliki, tidak peduli seberapa sakit ia mungkin, dalam segala situasi dan pada setiap saat dalam kehidupan, untuk . yang terakhir “

  • Pasien Terminally-sakit

Pada tahun 1977, Terry Zuehlke dan John Watkins melakukan studi menganalisis efektivitas logoterapi dalam merawat pasien terminally-sakit. Desain studi yang digunakan 20 laki-laki Veteran Administrasi relawan yang secara acak ditugaskan untuk salah satu dari dua kemungkinan pengobatan – (1) kelompok yang menerima 8-45 menit sesi selama 2 minggu dan (2) kelompok digunakan sebagai kontrol yang menerima pengobatan tertunda. Setiap kelompok diuji pada 5 skala – yang MMPI K Skala , MMPI L Skala, Death Anxiety Skala, Brief Psychiatric Rating Scale, dan Tujuan Hidup Test. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan keseluruhan antara kontrol dan kelompok perlakuan. Sementara analisis univariat menunjukkan bahwa ada perbedaan kelompok yang signifikan dalam 3/5 dari tindakan tergantung. Hasil ini mengkonfirmasi gagasan bahwa pasien terminally-sakit bisa mendapatkan keuntungan dari logoterapi dalam menghadapi kematian.

Ada tiga asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:

  1. Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dankepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berhargadan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikantujuan hidup.
  2. Setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tidak terbatas untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiapperistiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yangnegatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna

  1. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwatragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungansekitar. Contoh yang jelas adalah seperti kisah Imam Ali diatas, ia jelas-jelasmendapatkan musibah yang tragis, tapi ia mampu memaknai apa yang terjadi secarapositif sehingga walaupun dalam keadaan yang seperti itu Imam tetap bahagia.

 

Ajaran Logoterapi

Ketiga asas itu tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi manusia dan maknahidup sebagai berikut:

  1. Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun, kehidupan ini selalu mempunyai makna.
  2. Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
  3. Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya.
  4. Hidup bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai kehidupan, yaitu nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai penghayatan (eksperiental values) dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values).

 

Tujuan Logoterapi

Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:

  1. memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada padasetiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
  2. menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dandiabaikan bahkan terlupakan;
  3. memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamputegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna

Pandangan Logoterapi terhadap Manusia

  1. Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan danspiritual Unitas bio-psiko-spiritual.
  2. Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengandimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Franklmenggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.
  3. Dengan adanya dimensi noetic ini manusia mampu melakukan self-detachment, yaknidengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilaidirinya sendiri.
  4. Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksidengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolahlingkungan fisik di sekitarnya

 

Kritik

  • Otoriterisme

Rollo May , berpendapat bahwa logoterapi, pada dasarnya, otoriter . Dia menyarankan bahwa terapi Frankl menyajikan solusi sederhana untuk semua masalah hidup, sebuah pernyataan yang tampaknya untuk merusak kompleksitas kehidupan manusia itu sendiri. Rollo May menyatakan bahwa jika seorang pasien tidak bisa menemukan makna sendiri, Frankl disediakan gol untuk pasiennya . Akibatnya, ini akan meniadakan tanggung jawab pribadi pasien, sehingga “mengurangi [ing] pasien sebagai orang”. Viktor Frankl eksplisit menjawab argumen Mei melalui dialog tertulis, dipicu oleh Rabbi Reuven Bulka artikel ‘s “Apakah Logotherapy Otoriter? “. Viktor Frankl menjawab bahwa ia menggabungkan resep obat, jika perlu, dengan Logotherapy, untuk menangani reaksi psikologis dan emosional seseorang terhadap penyakit, dan daerah menyoroti kebebasan dan tanggung jawab, di mana orang bebas untuk mencari dan menemukan makna.

  • Religiusitas

Pandangan kritis dari kehidupan pendiri Logotherapy, dan karyanya, menganggap bahwa Viktor Frankl ‘latar belakang agama s dan pengalaman penderitaan mencegah dia dari menerima makna dalam batas-batas orang,  Oleh karena itu, Logotherapy didasarkan pada Viktor Frankl ‘s agama pandangan dunia.

Viktor Frankl terbuka berbicara dan menulis tentang agama dan psikiatri, sepanjang hidupnya, dan khususnya dalam buku terakhirnya “Man Search for Meaning Ultimate” (1997). Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki sadar spiritual, terlepas dari pandangan agama atau keyakinan. Dalam Viktor Frankl kata ‘s: “Memang benar, Logotherapy, berkaitan dengan Logos, berhubungan dengan Arti. Secara khusus saya melihat Logotherapy dalam membantu orang lain untuk melihat makna dalam kehidupan. Tapi kita tidak bisa “memberikan” makna bagi kehidupan orang lain.Dan jika ini benar makna per se, berapa tahan selama Arti Ultimate? ” The American Psychiatric Association diberikan Viktor Frankl 1985 Oskar Pfister Penghargaan (untuk kontribusi penting untuk agama dan psikiatri)

 

Sumber :

 

Behavior Therapy

Behavior Therapy

1. Pengertian dan Konsep Utama Behavior Therapy

Behavior Therapy (behavior modification) merupakan sebuah pendekatan psikoterapi didasarkan pada teori pembelajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan sakit kejiwaan (psikopatologi) dengan teknik-teknik yang dirancang untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dan menyingkirkan perilaku yang tidak diinginkan (Wikipedia, 2011).

Selain itu Terapi perilaku adalah istilah yang mengacu, baik itu pada psiko, perilaku analitis, atau kombinasi dari dua terapy. Dalam arti luas, metode yang terfokus pada salah satu perilaku adil atau kombinasi dengan pikiran dan perasaan yang mungkin jadi penyebab.

Menurut Marquis, terapi tingkah laku adalah suatu teknik yang menerapkan informasi-informasi ilmiah guna menemukan pemecahan masalah manusia. Jadi tingkah laku berfokus pada bagaimana orang-orang belajar dan kondisi-kondisi apa saja yang menentukan tingkah laku mereka.

Istilah terapi tingkah laku atau konseling behavioristik berasal dari bahasa Inggris Behavior Counseling yang untuk pertama kali digunakan oleh Jhon D. Krumboln (1964). Krumboln adalah promotor utama dalam menerapkan pendekatan behavioristik terhadap konseling, meskipun dia melanjutkan aliran yang sudah dimulai sejak tahun 1950, sebagai reaksi terhadap corak konseling yang memandang hubungan antar pribadi, antara konselor dan konseling sebagai komponen yang mutlak diperlukan dan sekaligus cukup untuk memberikan bantuan psikologis kepada seseorang. Aliran baru ini menekankan bahwa hubungan antar pribadi itu tidak dapat diteliti secara ilmiah, sedangkan perubahan nyata dalam prilaku konseling memungkinkan dilakukan penelitian ilmiah.

Behaviorism melihat gangguan psikologis sebagai hasil pembelajaran maladaptive, sebagai manusia kita dilahirkan memiliki prinsip tabula rasa (kertas kosong). Mereka tidak menganggap bahwa set-gejala mencerminkan penyebab tunggal.

Behaviorisme mengasumsikan bahwa semua perilaku yang dipelajari dari lingkungan dan gejala diperoleh melalui pengkondisian klasik dan operant conditioning.

Pengkondisian klasik melibatkan belajar dengan asosiasi dan biasanya merupakan penyebab paling fobia. Pengkondisian operan melibatkan belajar dengan penguatan (misalnya penghargaan) dan hukuman, dan dapat menjelaskan perilaku abnormal harus sebagai gangguan makan.

Konsep utama terapi tingkah laku ini adalah keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagai bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak psikologis, yaitu :

a.   Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah berdasarkan bekal keturunan dan lingkungan (nativisme dan empirisme), terbentuk pola-pola bertingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas kepribadiannya.

b.   Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya  dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.

c.   Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar. Kalau pola-pola lama dahulu dibentuk melalui belajar,pola-pola itu dapat diganti melalui usaha belajar yang baru.

d.   Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya dipengaruhi oleh perilaku orang lain.

Terapi perilaku menyelesaikan analisis fungsional atau penilaian fungsional yang dilihat dari empat bidang penting, seperti:

  • Stimulus adalah kondisi atau pemicu lingkungan yang menyebabkan perilaku.
  • Organisme melibatkan respon internal seseorang, seperti respon fisiologis, emosi dan kognisi.
  • Respon adalah perilaku seorang pemeran.
  • Konsekuensi adalah hasil dari perilaku.

Sebagai contoh, tanpa perlu diberi tahu alasannya, pegawai terlambat hadir disuruh “push-up” , pegawai rajin diberi ganjaran. Meskipun berakar dari teori yang berbeda kedua tradisi memiliki persamaan platform, yaitu keduanya memfokuskan pada masalah sekarang dan mengurangi gejala dan keluhan client.

2. Tujuan Behavior Therapy

  • Untuk menyembuhkan sakit kejiwaan (psikopatologi) dengan teknik-teknik yang dirancang untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dan menyingkirkan perilaku yang tidak diinginkan.
  • Pemeliharaan perubahan perilaku
  • Menciptakan proses baru bagi proses belajar, karena segenap tingkah laku adalah dipelajari.

    Ada beberapa kesalahpahaman tentang tujuan terapi tingkah laku, antara lain :

  • Bahwa tujuan terapi semata-mata menghilangkan gejala suatu gangguan tingkah laku dan setelah gejala itu terhapus, gejala baru akan muncul karena penyebabnya tidak ditangani.
  • Tujuan klien ditentukan dan dipaksanakan oleh terapi tingkah laku

3. Fungsi dan Peran Terapis

Terapis behavioristik harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, pada kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dana dalam menentukan prosesdur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.

Goodstein menyebut peran terapis sebagai pemberi perkuatan. Dan fungsi lainnya adalah peran terapis sebagai model bagi klien. Bandura menunjukkan bahwa sebagian besar proses belajar yang muncul melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain.

4. Pengalaman Klien dalam Terapi

Salah satu sumbangan yag unik dari terapi tingkah laku adalah suatu system prosedur yang ditentukan dengan baik yang digunakan oleh terapis dalam hubungan dengan peran yang juga ditentukan dengan baik. Terapi tingkah laku juga memberikan kepada klien peran yang ditentukan dengan baik, dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi klien dalam proses terapeutik.

Keterlibatan klien dalam proses terapeutik karenanya harus dianggap sebagai kenyataan bahwa klien menjadi lebih aktif. Satu aspek yang penting dari peran klien dalam terapi tingkah laku adalah klien di dorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptif.

5.  Hubungan antara Terapis dan Klien

Ada suatu kecenderungan yang menjadi bagian dari sejumlah kritik untuk menggolongkan hubungan antara terapis dengan klien dalam terapi tingkah laku sebagai hubungan yang mekanis, manipulative, dan sangat impersonal. Peran terapi yang esensial adalah peran sebagai agen pemberi perkuatan. Para terapis tingkah laku tidak dicetak untuk memainkan peran yang dingin dan impersonal yang mengerdilkan mereka menjadi mesin-mesin yang deprogram yang memaksakan teknik-teknik kepada para klien yang mirip robot. Bahwa factor-faktor seperti kehangatan, empati, keotentikan, sikap permisif, dan penerimaan adalah kondisi-kondisi yang diperlukan, tetapi tidak cukup bagi kemunculan perubahan tingkah laku dalam proses terapeutik.

 

6. Karakteristik Behavior Therapy

  • empirical (data-driven),
  • contextual (focused on the environment and context),
  • functional (interested in the effect or consequence a behaviour ultimately has),
  • probabilistic (viewing behaviour as statistically predictable),
  • monistic (rejecting mind–body dualism and treating the person as a unit),
  • relational (analysing bidirectional interactions).

7. Ciri-Ciri Behavior

TherapyAdapun ciri-ciri terapi tingkah laku itu sendiri adalah :

1.      Pemusatan perhatian pada tingkah laku yang tampak dan spesifik

2.      Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment

3.      Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah

4.      Penaksiran obyektif atau hasil-hasil terapi.

 

8. Kegunaan Behavior Therapy

Terapi tigkah laku dapat digunakan dalam menyembuhkan berbagai gangguan tingkah laku dari yang sederhana hingga yang kompleks, baik individu atau kelompok. Di samping itu terapi tingkah laku dapat dilaksanakan oleh guru, pelatih, orang tua atau pasien itu sendiri.

9. Teknik-teknik Behavior Therapy

Terapi perilaku didasarkan pada teori pengkondisian klasik. Premis adalah bahwa semua perilaku dipelajari, faulty learning/ pembelajaran yang salah (yaitu conditioning) merupakan penyebab perilaku abnormal. Oleh karena itu individu harus belajar perilaku yang benar atau diterima. Sebuah fitur penting dari terapi perilaku adalah fokus pada masalah saat ini dan perilaku, dan upaya untuk menghapus perilaku bermasalah  pasien.

Ada lima macam teknik terapi tingkah laku, yaitu :

1)      Desensitisasi Sistematik

Teknik ini digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negative dan menyertakan pemunculan tingkahlaku yang hendak dihapus.

2)      Teknik Inflosif dan Pembanjiran

Teknik ini berlandasakan kepada paradigma penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus dalam kondisi berulang-ulang tanpa memberikan penguatan.

3)      Latihan Asertif

Teknik ini diterapkan pada individu yang mengalami kesulitan menerima kenyataan bahwa menegaskan diri adalah tindakan yang layak benar. Latihan atau teknik ini membantu orang yang :

  • Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung
  • Memiliki kesulitan untuk mengatakan tidak
  • Dan bentuk lainnya

4)      Teknik Aversi

Teknik ini digunakan untuk meredakan gangguan behavioral yang spesifik dengan stimulus yang menyakitkan sampai stimulus yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus aversi ini biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang memualkan.

5)      Pengkondisian Operan

Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang mencari ciri organisme yang aktif, yang beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.

10.  Kelebihan dan Kekurangan Behavior Therapt

a. Kelebihan

  • Pendekatan ini menekankan bahwa proses konseling dipandang sebagai proses belajar yang akan menghasilkan perubahan perilaku konseli secara nyata.
  • Pendekatan ini menunjukkan fleksibilitas yang besar, karena tujuan konseling dan prosedur yang diikuti untuk sampai pada tujuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan konseli.
  • Pendekatan ini akan membantu individu untuk bisa membekali dirinya untuk mencegah timbulnya persoalan kejiwaan.

b. Kelemahan

  • Pendekatan ini kurang bermanfaat untuk kasus-kasus yang berkaitan dengan kehilangan makna dalam hidup. Dengan kata lain, konseling ini hanya menangani kasus berupa cara bertingkah laku yang salah/tidak sesuai.

Sumber:

http://www.psychologymania.com/2011/01/terapi-penderita-latah-dengan.html

http://www.andragogi.com/document2/Terapi%20tingkah%20laku.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Behaviour_therapy

http://www.simplypsychology.org/behavioral-therapy.html

http://fk.uns.ac.id/static/file/jki.1_.2_.editorial_.pdf

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=kekurangan%20dan%20kelebihan%20terapi%20behavior&source=web&cd=5&cad=rja&ved=0CEAQFjAE&url=http%3A%2F%2Fkk.mercubuana ac.id%2Ffiles%2F61039-14-491322685532.doc&ei=7o5 UdnRBs3wrQeqsYGgBA&usg=AFQjCNHd1fPmUjSyBeOHBwcVzAUZRIKBdw&bvm=bv.4 645796,d.bmk

Rational Emotive Therapy (RET)

Salah satu teori yang ada dalam kegiatan konseling adalah Rational Emotive Therapy (RET) yang berasumsi bahwa berpikir dan emosi itu bukan merupakan dua proses yang terpisah, tetapi justru saling bertumpangtindih dan dalam prakteknya kedua hal tersebut saling berkaitan.

Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua

proses yang terpisah: pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih dalam prakteknya kedua hal itu saling berkaitan. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh  pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap  dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi orang tersebut, dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran.

Tujuan utama terapi rasional-emotif adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi  diri mereka merupakan sumber gangguan emosionalnya. Kemudian membantu klien agar memperbaiki cara berpikir, merasa, dan berperilaku, sehingga ia tidak lagi mengalami gangguan emosional di masa yang akan datang.

Tujuan Konseling Rasional-Emotif

Berdasarkan pandangan dan asumsi tentang hakekat manusia dan kepribadiannya serta  konsep-konsep teoritik dari RET, tujuan utama konseling rasional-emotif adalah sebagai  berikut:

  1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self-actualization-nya seoptimal mungkin  melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
  2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti: rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, dan rasa marah. Sebagai konseling dari cara berfikir keyakinan yang keliru berusaha menghilangkan dengan jalan melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri

Secara lebih khusus Ellis menyebutkan bahwa dengan terapi rasional-emotif akan

tercapai pribadi yang ditandai dengan:

 Minat kepada diri sendiri

 Minat sosial

 Pengarahan diri

 Toleransi terhadap pihak lain

 Fleksibelitas

 Menerima ketidakpastian

 Komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya

 Berpikir ilmiah

 Penerimaan diri

 Berani mengambil resiko

 Menerima kenyataan

Sebagai suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu (helping relationship), terapi rasional-emotif mempunyai karakteristik sebagai berikut:

a. Aktif-direktif: bahwa dalam hubungan konseling, terapis/ konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.

b. Kognitif-eksperiensial: bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek  kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.

c. Emotif-eksperiensial: bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek emotif klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.

d. Behavioristik: bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong  terjadinya perubahan perilaku dalam diri klien.

e. Kondisional: bahwa hubungan dalam RET dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning untuk mencapai tujuan  terapi konseling.

Berikut merupakan gambaran yang harus dilakukan oleh seorang praktisi rasional-emotif  yaitu:

a. Mengajak, mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari gangguan emosional dan prilaku.

b. Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional.7

c. Menunjukan kepada klien azas ilogis dalam berpikirnya.

d. Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional klien.

e. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini adalah “in-operative” dan bahwa hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan emosional.

f. Menggunakan absurdity dan humor untuk menantang irasional pemikiran klien.

g. Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide yang irasional ini dapat ditempatkan  kembali atau disubstitusikan kepada ide-ide rasional yang harus secara empiric melatarbelakangi kehidupannya.

h. Mengajar klien bagaimana mengaplikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah, objektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk mengobservasi dan  menghayati sendiri bahwa ide-ide irasional dan deduksi-deduksi hanya akan membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.

Teknik-Teknik Terapi

Terapi rasional-emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan  behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut ini akan dikemukakan beberapa  macam teknik yang dipakai dalam rasional-emotif:

Teknik-teknik Emotif (afektif):

1) Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan  membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku  tertentu yang diinginkan.

2) Sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang  menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang didramatisasikan  sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara  lisan, tulisan, ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.

3) Self Modeling, yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjanji” atau  mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku  tertentu.

4) Imitasi, yakni teknik yang digunakan di mana klien diminta untuk menirukan secara  terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan  menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.

 

Teknik-teknik Behavioristik

1) Reinforcement (penguatan), yakni teknik yang digunakan untuk mendorong klien ke arah  perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward)  ataupun punishment (hukuman).

2) Social Modeling (pemodelan sosial), yakni teknik yang digunakan untuk memberikan  perilaku-perilaku baru pada klien.

3) Live Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk menggambarkan  perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam  bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.9

 

Teknik-teknik Kognitif

Teknik-teknik konseling atau terapi berdasarkan pendekatan kognitif memegang peranan  utama dalam konseling rasional-emotif. Dengan teknik ini klien didorong dan dimodifikasi  aspek kognitifnya agar dapat berpikir dengan cara yang rasional dan logis sehingga klien  dapat bertindak atau berperilaku sesuai sistem nilai yg diharapkan baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.

Beberapa teknik kognitif yang cukup dikenal adalah:

1) Home Work Assigments (pemberian tugas rumah). Dalam teknik ini, klien diberikan  tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Teknik ini sebenarnya dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap bertanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien, serta mengurangi ketergantungan kepada konselor atau terapis.

2) Assertive. Teknik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui; role playing (bermain peran), rehearsal (latihan), dan social modeling (meniru model-model  sosial). Maksud utama teknik Assertive Training adalah untuk:

a) Mendorong kemampuan klien mengekspresikan seluruh hal yang berhubungan dengan emosinya;

b) Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain;

c) Mendorong kepercayaan pada kemampuan diri sendiri; dan10d) Meningkatkan kemampuan untuk memilih perilaku-perilaku assertive yang cocok untuk dirinya sendiri.

Pendekatan rasional emotif yang dikembangkan oleh Albert Ellismempunyai kelebihan sebagai berikut:

1. Rasional Emotif menawarkan dimensi kognitif dan menantang klienuntuk meneliti rasionalitas dari keputusan yang telah diambil sertanilai yang klien anut.

2. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk mengaktifkanpemahaman yang di dapat oleh klien sehingga klien akan langsungmampu mempraktekkan perilaku baru mereka.

3. Rasional emotif menekankan pada praktek terapeutik yangkomprehensif dan eklektik.

4. Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara mereka bisa melakukanterapi sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis.

Kekurangan dari pendekatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Rasional emotif tidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalamproses terapeutik ada hal-hal yang tidak diperhatikan.
  2. Rasional emotif kurang melakukan pembangunan hubungan antaraklien dan terapis sehingga klien mudah diintimidasi oleh konfrontasicepat terapis.
  3. Klien dengan mudahnya terbius dengan oleh kekuatan dan wewenangterapis dengan menerima pandangan terapis tanpa benar-benarmenantangnya atau menginternalisasi ide-ide baru.
  4. Kurang memperhatikan faktor ketidaksadaran dan pertahanan ego.

 

Sumber:

Analisa Transaksional

Konseling Analisa Transaksional

ERIC BERNE (1910-1970) kelahiran Montreal, Canada, adalah pelopor Analisis Transaksional (AT). Ia mulai mengembangkan AT ini sebagai terapi ketika ia bertugas dalam Dinas Militer Amerika Serikat dan diminta untuk membuka program terapi kelompok bagi para serdadu yang mendapat gangguan emosional sebagai akibat Perang Dunia ke-2.

Berne, pada mulanya adalah seorang pengikut Freud dan melakukan praktik Psikoanalisis dalam terapi. Sebab, saat itu psikoanalisis tengah mendapat perhatian yang luar biasa. Bahkan Berne sendiri pernah mendapat kuliah psikoanalisis di Yale Psychiatric Clinic (1936-1938) dan New York Psichoanalitical Institute (1941-1943).

Analisis transaksional berevolusi dari ketidakpuasan Berne dengan lambatnya psikoanalisis dalam menyembuhkan orang-orang dari masalah mereka. Setelah Berne berhenti bekerja pada Dinas Militer, Berne mulai melakukan eksperimen yang sungguh-sungguh. Akhirnya pada pertengahan tahun 50-an barulah ia memperkenalkan teorinya, Analisis Transaksional. Diluar dugaan, teori ini mendapat sambutan baik dari kalangan ahli terapi kelompok, dalam pertemuan Regional Perhimpunan Terapi Kelompok Amerika di Los Angeles tahun 1957 teori ini diangkat sebagai salah satu tema yang dibahas. Tentu saja AT mulai mengundang ingin tahu banyak orang dengan prinsip-prinsip yang dikembangkannya. Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam analisis transaksional  adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran logis, rasional, tujuan-tujan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.

Analisis Transaksional (AT) merupakan psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok. Analisis Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling.

Analisis Transaksional berfokus pada keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan-keputusan baru. Analisis Transactional menekankan aspek-aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya. Berne menemukan bahwa dengan menggunakan AT kliennya membuat perubahan signifikan dalam kehidupan mereka.

       I.            Asumsi Dasar

Pendekatan analisis transaksional berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu: orang tua, dewasa, anak. Sifat kontraktual proses terapeutik analisis transaksional cenderung mempersamakan kedudukan konselor dan klien. Adalah menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan diubahnya. Pada dasarnya, analisis transaksional  berasumsi bahwa manusia itu:

  1. Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lampaunya (Manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihanya). Ada tiga hal yang membuat manusia selalu berubah, yaitu :
    1. Manusia (klien) adalah orang yang “telah cukup lama menderita”, karena itu mereka ingin bahagia dan mereka berusaha melakukan perubahan.
    2. Adanya kebosanan, kejenuhan atau putus asa. Manusia tidak puas dengan kehidupan yang monoton, kendatipun tidak menderita bahkan berkecukupan. Keadaan yang monoton akan melahirkan perasaan jenuh atau bosan, karena itu individu terdorong dan berupaya untuk melakukan perubahan.
    3. Manusia bisa berubah karena adanya penemuan tiba-tiba. Hal ini merupakan hasil AT yang dapat diamati. Banyak orang yang pada mulanya tidak mau atau tidak tahu dengan perubahan, tetapi dengan adanya informasi, cerita, atau pengetahuan baru yang membuka cakrawala barunya, maka ia menjadi bersemangat untuk menyelidiki terus dan berupaya melakukan perubahan.
    4. Manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemprograman awal (manusia dapat berubah asalkan ia mau). Perubahan manusia itu adalah persoalan di sini dan sekarang (here and now). Berbeda dengan psikoanalisis, yang cenderung deterministik, di mana sesuatu yang terjadi pada manusia sekarang ditilik dari masa lalunya. Bagi AT, manusia sekarang memiliki kehendak, karena itu perilaku manusia sekarang adalah persoalan sekarang dan di sini. Kendatipun ada hubungannya dengan masa lalu, tapi bukan seluruhnya perilaku hari ini ditentukan oleh pengalaman masa lalunya.
    5. Manusia bisa belajar mempercayai dirinya dirinya sendiri , berpikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-persaannya.
    6. Manusia sanggup untuk tampil di luar pola-pola kebisaaan dan menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.
    7. Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan dari orang-orang lain
    8. Manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu yang pertama dipelajari adalah berbuat sebagaimana yang diperintahkan.

    II.            Pengertian Analisis Transaksional

  • Analisis Transaksional adalah suatu pendekatan psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional.
  • Analisis Transaksional (AT) adalah salahsatu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional.
  • Dalam buku Transactional Analysis in Psychotherapy, Berne (1961) mendefinisikan analisis transaksional sebagai sistematika analisis struktur transaksi, mencakup aspek-aspek kepribadian dan dinamika sosial yang disusun berdasar pengalaman klinis serta merupakan bentuk terapi rasional yang mudah dipahami, dan mampu menyesuaikan dengan latar budaya klien.
  • Analisis transaksional adalah metode yang menyelidiki peristiwa dalam interaksi orang per-orang, cara mereka memberikan umpan balik serta pola permainan status ego masing-masing. Metode ini kemudian dikenal sebagai salah satu teknik psikoterapi yang dapat digunakan dalam pelatihan individual, tetapi lebih cocok digunakan secara berkelompok (Corey, 2005).
  • Analisis transaksional menurut pandangan Stewart (1996) berbeda dengan sebagian besar model terapi lain karena merupakan bentuk terapi berdasarkan kontraktual dan desisional. Analisis transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses pelatihan.

 III.            Tujuan dan Konsep Analisis Transaksional

  • Berner (Palmer, 2000:320) menegaskan bahwa tujuan perlakuan analisis transaksional bukan hanya untuk memperoleh insight atau kemajuan, tetapi untuk memperolaeh penyembuhan. Dimana penyembuhan sebagai proses progesif yang berlangsung dalam empat tahap, yaitu : social control, symptomatic relief, transference cure dan Script cure.
  • Berne (Corey, 2010:166) menjelaskan bahwa tujuan dasat AT adalah membantu konseli dalam membuat keputusan baru tentang tingkah laku saat ini dan mengarahkan hidupnya.
  • Inti dari terapis AT adalah mengganti gaya hidup yang ditandai dengan permainan manipulative dan scenario-scenario hidup yang dapat mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai dengan kesadaran, spontanitas dan keakraban.  Hal ini sependapat dengan James dan Jongeward (Corey, 2010:167) yang melihat pencapaian otonomi sebagai tujuan utama analisis transaksional.
  • Haris (Corey, 2010:166) Analisis Transaksional adalah untuk membantu individu agar memiliki kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk mengubah keinginan, dan utnuk mengubah respon terhadap stimulus yang lazim maupun baru.
  • Analisis Transaksional dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok.
  • Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru,guna kemajuan hidupnya sendiri.
  • Dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan.
  • Tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam prosesterapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien atau proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dankeputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.
  • Analisis Transaksional berakar dalam suatu filsafat anti deterministik yang memandang bahwa kehidupan manusia bukanlah suatu yang sudah ditentukan.
  • Analisis Transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya.
  • Analisis Transaksional (AT) lebih menekankan pada aspek kognitif, rasional danbehavioral tentang kepribadian serta berorientasi pada peningkatan kesadaran sehinggaklien akan mampu membuat keputusan-keputusan dan rencana baru bagi kehidupannya.
  • Secara keseluruhan dasar filosofis Analisis Transaksional bermula dari asumsi bahwa semuanya baik artinya bahwa setiap perilaku individu mempunyai dasar menyenangkan dan mempunyai potensi serta keinginan untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri.
  • Teori Analisis Transaksional mendasarkan pada decisional model, artinya setiap individu mempelajari perilaku yang spesifik dan memutuskan rencana hidupnya dalam menghadapi hidup dan kehidupannya. Meskipun sewaktu masa kanak-kanak dipengaruhi oleh orang tuanya atau orang lain akan tetapi individu memutuskan sesuatunya secara khas.
  • Menurut pandangan Spanceley (2009), metode analisis transaksional sebagai bentuk penanganan masalah-masalah psikologis yang didasarkan atas hubungan antara klien dan terapis demi mencapai pertumbuhan dan kesejahteraan diri. Kesejahteraan diri dimaksud meliputi : terbebas dari keadaan tertekan, gangguan alam perasaan, kecemasan, berbagai gangguan perilaku khas serta masalah-masalah ketika membangun hubungan dengan orang lain.
  • Analisis transaksional berpijak pada asumsi-asumsi bahwa setiap orang sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya dan bahwa mereka pun mampu memilih untuk kemudian memutuskan kembali setiap keputusan yang telah dibuat sebelumnya (Covey, 2005). Dengan demikian analisis transaksional meletakkan kepercayaan pada kesadaran dan kesanggupan individu.

Adapun konsep pokok dari analisis transaksional menurut Corey (2005) adalah:

  1. Pandangan tentang manusia. Analisis transaksional berakar pada filsafat yang anti determinasi serta menekankan bahwa manusia sanggup melampaui pengkondisiandan pemograman awal.
  2. Perwakilan perwakilan Ego. Analisis transaksional adalah suatu system terapiyang berlandaskan teori kepribadian yang menggunakan tiga pola tingkah laku atau perwakilan ego yang terpisah; orang tua, orang dewasa dan anak .
  3. Scenario scenario kehidupan dan posisi psikologi dasar. Adalah ajaran ajaran orang tua yang kita pelajari dan putusan putusan awal yang dibuat oleh kita sebgai anak dewasa.

Secara garis besar tujuan analisis transaksional dapat dijelaskan (Steiner, 2005) sebagai berikut :

  1. Mencapai otonomi diri termasuk menggunakan setiap unsur status ego secara sadar dan memadai.
  2. Membuat setiap individu menjadi akrab dengan metode analisis transaksional. Artinya bahwa pada saatnya akan terjadi pertukaran dalam bentuk transaksi, interaksi dan komunikasi yang sesuai tanpa mengganggu transaksi ciri status ego secara tumpang-tindih dan berlangsung secara spontan (menjadi kebiasaan).

Kelemahan menurut Gerald Corey :

  1. Banyak Terminologi atau istilah yang digunakan dalam analisis transaksional cukup membingungkan.
  2. Penekanan Analisis Transaksional pada struktur merupakan aspek yang meresahkan.
  3. Konsep serta prosedurnya dipandang dari perspektif behavioral, tidak dapat di uji keilmiahannya
  4. Konseli bisa mengenali semua benda tetapi mungkin tidak merasakan dan menghayati aspek diri mereka sendiri.

Kelebihan :

  1. Sangat berguna dan para konselor dapat dengan mudah menggunakannya.
  2. Menantang konseli untuk lebih sadar akan keputusan awal mereka.
  3. Integrasi antara konsep dan praktek analisis transaksional dengan konsep tertentu dari terapi gestalt amat berguna karena konselor bebas menggunakan prosedur dari pendekatan lain.
  4. Memberikan sumbangan pada konseling multikultural karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga dan larangan mementingkan diri sendiri

Sebagai pendiri dan pengembang Analisis Transaksional, Berne (Spanceley, 2009) memiliki pandangan optimis tentang hakikat individu, yaitu:

  1. Individu adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk hidup sendiri. Individu memiliki potensi untuk mengelola dirinya, termasuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga menjadi pribadi yang otonom dan mandiri, terlepas dari ketergantungan terhadap orang lain.
  2. Individu adalah makhluk yang memiliki potensi untuk membuat keputusan. Individu mempunyai kemampuan untuk membuat rencana-rencana kehidupan, kemudian memilih dan memutuskan rencana-rencana terbaik bagi dirinya. Rencana-rencana yang telah dibuatnya itu terus dinilai sesuai dengan irama perkembangan hidupnya, sehingga ia dapat memutuskan rencana yang lebih baik lagi bagi kehidupan selanjutnya.
  3. Individu adalah makhluk yang bertanggung jawab. Individu bukan hanya mampu hidup mandiri dan membuat keputusan untuk dirinya, namun ia juga mampu bertanggung jawab atas pilihan dan putusan yang diambilnya serta konsekuensi yang akan ditimbulkannya.  Pandangan ini sangat mempengaruhi usaha-usaha bantuan terapi terhadap klien. Dalam hal hubungan terapis dan klien, maka ciri hubungan idealnya adalah transaksi sejajar (compliment) dalam proses terapi dan keduanya harus sama-sama berbagi tanggung jawab dalam penetapan dan pencapaian tujuan terapi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dasar filosofi AT adalah bahwa manusia merupakan mahluk yang bebas, bertanggungjawab, mandiri dan sanggup melampaui keputusan awal dengan keputusan baru untuk menyongsong perubahan yang lebih baik. Oleh sebab itu konsep AT menggunakan dasar filosofi ini untuk mendudukan kembali fungsi-fungsi manusia sebenarnya melalui bentuk-bentuk transaksi yang seimbang, positif dan OK.

 sumber :

http://www.scribd.com/doc/97424921/Analisis-transaksional-makalah

http://www.mediawiki.org/wiki/Thread:Template_talk:Help_box/Analisis_Transactional

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=pengertian%20analisis%20transaksional&source=web&cd=22&cad=rja&ved=0CC8QFjABOBQ&url=http%3A%2F%2Fkk.mercubuana.ac.id%2Ffiles%2F61039-6-960550715646.doc&ei=tKhpUebFN8XwrQfmp4CgCA&usg=AFQjCNG2DMNrVEKk5tS1-SKypCRZWyoSMQ

http://repository.upi.edu/operator/upload/t_bp_1004821_chapter2.pdf

Client Centered Therapy

Nama : Sindy Arsita
NPM : 16510556
Kelas : 3pa01

Client Centered Therapy

Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-cendered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutkannya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis.
Client-cendered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggarisbawahi tindakan mengalami klien berikutnya dunia subjektif dan fenomenalnya.
Terapis berfungsi terutarna sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupankesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client-centered manaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Client Centered Theory sering pula dikenal sebagai teori nondirektif dimana tokoh utamanya adalah Carl Rogers. Rogers adalah seorang empirisme yang mendasarkan teori-teorinya pada data mentah, ia percaya pentingnya pengamatan subyektif, ia percaya bahwa pemikiran yang teliti dan validasi penelitian diperlukan untuk menolak kecurangan diri (self-deception).

Rogers membangun teorinya ini berdasarkan penelitian dan observasi langsung terhadap peristiwa-peristiwa nyata, dimana pada akhirnya. ia memandang bahwa manusia pada hakekatnya adalah baik.
Oleh karena itu konseling client-centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat keputusan-keputusan, sebab klien merupakan orang yang paling tahu tentang dirinya, dan pantas menemukan tingkah laku yang pantas bagi dirinya.

Pendekatan client centered merupakan corak yang dominan yang digunakan dalam. pendidikan konselor. Salah satu alasannya adalah, terapi client centered memiliki sifat keamanan. Terapi client centered menitik beratkan mendengar aktif, memberikan resfek kepada klien, memperhitungkan kerangka acuan intemal klien, dan menjalin kebersamaan dengan klien yang merupakan kebalikan dari menghadapi klien dengan penafsiran-penafsiran. Para terapis client centered secara khas merefleksikan isi dan perasaan-perasaan, menjelaskan pesan-pesan, membantu para.
Proses Konseling
fokus utamanya menekankan pengalaman yang dirasakan oleh klien. Pada awal proses konseling tidak difokuskan pada masalah, tujuan dan prilaku.

Tujuan
Tujuan dasar terapi client centered adalah
– Meningkatkan harga diri
– Memperluas keterbukaan terhadap pengalaman hidup
Beberapa kritik lain terhadap client centered:
– Terlalu menekankan pada aspek afektif, emosional, perasaan sebagai penentu prilaku, tetapi melupakan faktor ineraktif, kognitif dan rasional
– Penggunaan informasi untuk membantu klien, tidak sesuai dengan teori
– Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas, umum dan longgar sehingga sulit untuk menilai setiap individu
– Tujuan ditetapkan oleh klien, tetapi tujuan konseling kadang-kadang dibuat tergantung lokasi konselor dan klien
– Meskipun terbukti bahwa konseling client centered diakui efektif , tapi bukti-bukti tidak cukup sistematis dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggung j awabnya
– Sulit bagi konselor untuk benar-benar bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal

Namun dernikian dalam sumber lain dikatakan bahwa konseling client centered elah memberikan kontribusi dalam hal:
– Pernusatan pada klien dan bukan pada konselor dalam konseling
– Idenifikasi dan penekanan hubungan konseling sebagai wahana utama, dalam mengubah kepribadian
– Lebih menekankan pada sikap konselor daripada teknik
– Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif
– Penanganan emosi, perasaan dan afektif dalam konseling.

Cirri-ciri Client centered therapy
Rogers (1974, h. 213-214) menguraikan ciri-ciri yang membedakan pendekatan client-centered dari pendekatan-pendekatan lain :
– Pendekatan client centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien sebagai sebagai orang yang paling mengetahui dirinya sendiri, adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih panas bagi dirinya.
– Pendekatan client centered menekankan dunia fenomenal klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami klien. Dengan simpati yang cermat dan dengan usaba untuk memahami kerangka acuan internal klien, terapis memberikan perhatian terutama pada persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia.

Teknik Terapi
a. Penekanan awal pada refleksi perasaan the person centered yang pada dasarnya adalah pernyataan ulang yang sedrhana dari apa yang dikatakan klien.
b. Evolusi metode person centered
Filosofi the person centered di dasarkan pada asumsi bahwa klien memiliki akal untu bergerak positif tanpa bantuan konselor.
c. Peran penilaian
Penilaian sering di pandang sebagai prasyarat untuk proses tritmen. Beberapa kesehatan mental menggunakan berbagai procedure penilaian termasuk diagnostic, identifikasi kekuatan klien dan kewajiban pengerjaan test.
d. Penerapan filosofi dari pendekatan the person centered
diterapkan untuk bekerja individu, kelompok maupun keluarga. Pendekatan the person cetered juga telah terbukti sebagai terapi yang layaK dan lebih berorientasi, filosofi dasar dari the person centered memiliki penerapan untuk pendidikan SD hinga lulus.
e. Aplikasi untuk krisis intervensi
Pendekatan the person centered terutama berlaku dalam krisis intervensi seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit, peristiwa bencana dan kehilangan orang yang dicintai. Dalam krisis intervensi seseorang yang mengalaminya butuh dorongan motivasi dari orang-orang sekitarnya, kepedulian dan berusaha untuk menempatkan posisinya.
f. Aplikasi untuk kelompok konseling
Pendekatan the person centered menekankan peran unik dari kelompok konselor sebagai fasilitator dan bukan pemimpin.

Sumber :
http://enamkonselor.files.wordpress.com/2012/05/clientcenteredtherapy1.pdf

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=11&cad=rja&ved=0CCoQFjAAOAo&url=http%3A%2F%2Ffile.upi.edu%2FDirektori%2FFIP%2FJUR._PEND._LUAR_BIASA%2F195505161981011-MUSYAFAK_ASSYARI%2FKonseling_ABK%2Fclient_centered_counseling%2Fclient_centered.pdf&ei=0Z1ZUaHVK4uIrAeyp4G4CA&usg=AFQjCNGArRhMxSfrMxTg7dwUbDqY3VNKWA&bvm=bv.44442042,d.bmk

http://psychology.jrank.org/pages/118/Client-Centered-Therapy.html
http://konselorsekolah.blogspot.com/2012/08/person-centered-counseling-carl-rogers.html
– Ivey, A. E., D’Andrea, M., Ivey, M. B., & Simek-Morgan, L. (2009). Theories of conseling dan psychotherapy. Canada: Pearson Education, Inc.